30 Desember 20253 menit bacaterencana.id

Padel: Olahraga Sosial yang Ramah Badan, Tapi Perlu Disadari Dampak Keuangannya

Padel terasa ringan dan menyenangkan, tapi tanpa sadar bisa menjadi pengeluaran rutin yang cukup mahal.

Padel: Olahraga Sosial yang Ramah Badan, Tapi Perlu Disadari Dampak Keuangannya

Padel sedang naik daun. Olahraganya terasa ringan, tidak terlalu teknis, cepat bisa dimainkan, dan yang paling penting: sangat sosial. Banyak orang yang awalnya jarang olahraga jadi rutin bergerak karena padel terasa menyenangkan dan tidak mengintimidasi.

Masalahnya, justru karena terasa ringan dan fun, padel sering luput dari evaluasi keuangan. Tanpa disadari, ia berubah dari sekadar olahraga menjadi pengeluaran rutin dengan nominal yang tidak kecil.

Biaya padel jarang terasa mahal di awal

Salah satu alasan padel cepat diterima adalah karena biaya per sesi sering terasa “masih masuk”. Sekali main, angkanya tidak mengejutkan. Dibagi berempat, terasa wajar. Dan karena mainnya seru, frekuensinya cepat naik.

Yang sering terjadi kemudian:

  • main 1–2 kali seminggu jadi 3–4 kali,
  • sesi santai berubah jadi rutinitas,
  • nongkrong setelah main jadi bagian dari paket.

Tanpa pernah ada satu keputusan besar, biaya bulanan pelan-pelan membengkak.

Kalau dihitung bulanan, angkanya mulai terasa

Banyak orang tidak pernah menjumlahkan biaya padel secara bulanan. Padahal, di sinilah dampaknya mulai terlihat.

Sebagai ilustrasi kasar:

  • sewa lapangan + bola: Rp400–600 ribu per sesi (dibagi 4 orang),
  • berarti sekitar Rp100–150 ribu per orang per sesi,
  • main 8–12 kali sebulan → Rp800 ribu sampai Rp1,8 juta per bulan,
  • belum termasuk minum, makan, atau gear tambahan.

Untuk sebuah hobi, angka ini sudah setara dengan cicilan kecil atau pos gaya hidup utama.

Padel bukan mahal karena olahraganya, tapi karena sosialnya

Berbeda dengan lari atau olahraga solo, padel hampir selalu datang dengan konteks sosial. Ada grup, jadwal bareng, dan rasa tidak enak kalau sering absen.

Di sinilah tantangan keuangannya muncul. Bukan karena kita tidak mampu, tapi karena:

  • ada tekanan halus untuk ikut,
  • ada rasa takut ketinggalan,
  • dan ada normalisasi biaya yang sebenarnya cukup tinggi.

Padel jarang terasa boros karena selalu dibungkus kebersamaan.

Tentukan peran padel dalam hidupmu

Supaya sehat secara finansial, penting untuk jujur: padel ini sekadar olahraga, hobi sosial, atau bagian penting dari gaya hidup?

Jawaban ini menentukan wajar atau tidaknya biaya.

Beberapa pendekatan yang lebih sadar:

  • menjadikan padel sebagai olahraga utama dengan batas frekuensi,
  • mengombinasikan padel dengan olahraga gratis atau murah,
  • atau menetapkan “budget bulanan olahraga” yang tidak boleh ditembus.

Masalah muncul ketika padel diperlakukan sebagai hiburan rutin, tapi biayanya setara komitmen finansial.

Olahraga yang sehat harus bisa dijalani jangka panjang

Olahraga yang baik bukan hanya yang bikin badan sehat hari ini, tapi juga yang bisa dijalani bertahun-tahun tanpa rasa bersalah finansial. Kalau setiap bulan biaya padel mulai terasa mengganggu tabungan, dana darurat, atau tujuan lain, itu tanda perlu evaluasi.

Mengurangi frekuensi bukan berarti berhenti. Mengatur jadwal bukan berarti pelit. Justru itu tanda bahwa olahraga ditempatkan secara sadar dalam hidup.

Padel tetap layak, asal posisinya jelas

Padel punya banyak manfaat: bikin bergerak, bikin senang, dan bikin konsisten olahraga. Semua itu bernilai. Tapi manfaatnya akan terasa maksimal jika tidak dibarengi tekanan keuangan yang diam-diam tumbuh.

Kamu tidak perlu berhenti main padel.
Kamu hanya perlu memastikan padel tidak “mencuri” ruang dari tujuan keuangan lain.

Karena olahraga seharusnya membuat hidup lebih seimbang —
bukan cuma sehat di badan, tapi juga tenang di dompet.

Mau tahu kondisi keuanganmu hari ini?

Cek kesehatan keuanganmu (±5 menit). Kamu dapat ringkasan yang jelas: mana yang aman, mana yang rawan, dan langkah pertama yang paling masuk akal.

Artikel terbaru lainnya