Ketika mulai membahas pernikahan, pertanyaan yang hampir selalu muncul adalah: “Sebenarnya wajar nggak sih biaya nikah segini?” Sayangnya, banyak pasangan menjawabnya dengan perasaan, bukan perhitungan.
Tanpa perhitungan yang jelas, biaya pernikahan mudah terasa membengkak. Bukan karena satu pos terlalu mahal, tapi karena banyak keputusan kecil yang tidak pernah dijumlahkan dengan sadar.
Menghitung biaya pernikahan bukan untuk menekan kebahagiaan. Justru sebaliknya, supaya setelah hari H kamu tidak harus membayar kebahagiaan itu dengan stres finansial.
Mulai dari kapasitas keuangan, bukan dari konsep acara
Langkah pertama yang sering terlewat adalah menentukan batas kemampuan finansial. Banyak pasangan langsung bicara soal gedung, dekorasi, dan tamu, padahal angka maksimumnya belum pernah disepakati.
Secara sederhana, kapasitas dana pernikahan bisa dihitung dari:
- tabungan yang sudah tersedia,
- kemampuan menabung rutin sampai hari H,
- dan bantuan keluarga (jika ada dan pasti).
Sebagai contoh, jika tabungan saat ini Rp30 juta dan kamu bisa menyisihkan Rp5 juta per bulan selama 12 bulan, maka dana yang relatif aman untuk acara berada di kisaran Rp90 juta. Angka ini bukan target harus dihabiskan, tapi batas supaya keuangan tidak terganggu setelah menikah.
Pecah anggaran besar menjadi pos-pos yang nyata
Kesalahan umum adalah melihat biaya pernikahan sebagai satu angka besar. Padahal, keputusan sebenarnya terjadi di level pos.
Secara umum, anggaran pernikahan biasanya terbagi ke beberapa kelompok utama:
- venue dan konsumsi, yang sering memakan porsi terbesar,
- busana, rias, dan dokumentasi,
- dekorasi dan hiburan,
- administrasi dan kebutuhan teknis lain.
Dengan dana Rp90 juta misalnya, banyak pasangan kaget saat sadar bahwa konsumsi 300 tamu dengan harga Rp150 ribu per orang saja sudah menghabiskan Rp45 juta. Angka ini belum termasuk pos lain yang sering dianggap “tambahan kecil”, tapi jika dijumlahkan ternyata signifikan.
Jumlah tamu adalah pengungkit biaya terbesar
Dalam banyak kasus, keputusan paling berdampak pada anggaran pernikahan bukan di dekorasi atau busana, tapi di jumlah tamu. Setiap tambahan 50 tamu bisa berarti tambahan biaya jutaan rupiah.
Karena itu, diskusi soal tamu sebaiknya tidak hanya soal siapa yang ingin diundang, tapi juga:
- apakah jumlahnya masih sejalan dengan kemampuan dana,
- dan apakah ada prioritas tamu yang perlu disepakati bersama.
Mengurangi jumlah tamu sering terasa berat secara emosional, tapi secara finansial ini adalah keputusan paling rasional dan berdampak besar.
Sisakan ruang untuk kehidupan setelah menikah
Salah satu kesalahan paling berisiko adalah menghabiskan seluruh dana untuk hari H tanpa menyisakan ruang untuk hidup setelahnya.
Idealnya, dari total dana yang ada, kamu tetap menyisakan:
- dana hidup minimal 2–3 bulan setelah menikah,
- dana darurat awal sebagai pasangan,
- dan biaya transisi (pindah rumah, sewa, atau kebutuhan awal).
Kalau seluruh tabungan habis di hari pernikahan, maka tekanan finansial akan langsung muncul di bulan-bulan pertama pernikahan. Dan ini sering kali lebih berat daripada menurunkan skala acara.
Apakah utang pernikahan masuk akal?
Utang sering muncul sebagai solusi cepat ketika anggaran tidak cukup. Tapi utang pernikahan perlu dilihat dengan sangat hati-hati.
Utang mungkin masih bisa dipertimbangkan jika:
- jumlahnya kecil dan jelas sumber pelunasannya,
- cicilannya tidak melebihi kemampuan arus kas setelah menikah,
- dan tidak diambil hanya demi memenuhi gengsi atau ekspektasi sosial.
Kalau cicilan pernikahan justru membuat bulan-bulan awal pernikahan terasa sesak, maka biaya yang dibayar bukan hanya bunga, tapi juga ketenangan.
Hitung supaya tenang, bukan supaya paling besar
Perhitungan biaya pernikahan bukan bertujuan mencari angka tertinggi yang bisa dicapai, tapi angka yang masih membuat keuangan terasa aman setelahnya.
Kamu tidak perlu pesta sempurna.
Kamu perlu awal yang cukup kuat untuk berjalan bersama.
Karena pernikahan yang sehat secara finansial adalah pernikahan yang masih punya ruang bernapas setelah hari bahagia itu lewat.




